Sabtu, 30 April 2011

maksilofasial

BAB 3. PEMBAHASAN
3
3.1 MESENKIM
Mesenkim untuk membentuk regio kepala berasal dari mesoderm paraksisal dan mesoderm lempeng lateral, krista neuralis, dan regio ektoderm yang menebal dan dikenal sebagai plakoda ektoderm. Mesoderm paraksisal (somit dan somitomer) membntuk dasar tengkorak dan sebagian regio oksipital, semua otot volunter regio kraniofasial, dermis dan jaringan ikat bagian dorsal kepala serta meningen sebelah kaudal dari prosensefalon.
• Mesoderm lempeng lateral membentuk kartilago laring serta jaringan ikat di daerah ini.
• Sel krista neuralis berasal dari neuroektoderm regio otak depan, tengah dan belakang akan bermigrasi e ventral ke arkus faring dan ke rostral ke daerah wajah. Sel ini membentuk struktur tulang arkus faring dan wajah bagian tengah serta jaringan lain di daerah ini yaitu kartilag, tulang, dentin, tedon, dermis, pia, arakhnoid, neuron sensorik, dan stroma kelenjar.
• Sel plakoda ektoderm bersama dengan sel krista neuralis akan membentuk neuron ganglion sensorik saraf kranial V, VII, IX dan X.
Gambaran paling khas dari pembentukan kepala dan leher dihasilkan oleh arkus faring atau brankial faring (pharyngeaal arch). Arkus-arkus ini muncul pada minggu ke-empat hingga ke-lima perkembangan dan ikut berperan dalam menghasilkan penampilan luar embrio. Pada awalnya arkus ini terdiri dari jaringan mesenkim yang dipisahkan oleh celah yang dikenal dengan celah faring (pharyngeal cleft/groove). Secara bersamaan, terbentuknya arkus dan celah juga diiringi dengan pembentukan kantong faring (pharyngeal pouch). Kantong ini menembus mesenkim tetapi tidak membentuk hubungan terbuka dengan celah faring.


Arkus faring tidak hanya membentuk leher, tetai juga berperan penting dalam pembentukan wajah. Pada akhir mnggu ke empat, bagian tengah wajah dibentuk oleh stomodeum dikelilingi oleh pasangan arkus pertama faring. Ketika embrio berusia 6 minggu, dikenali adanya 5 tonjolan mesenkim :
• Prominensia mandibularis
• Kaudal dari stomodeum
• Prominensia maksilaris
• Lateral dari stomodeum
• Prominensia frontonasalis
Pembentukan wajah kemudian dilengkapi oleh pembentukan prominensia nasalis. Diferensiasi struktur yang berasal dari kantong, celah, dan arkus bergantung pada interaksi epitel-mesenkim.


3.2 KANTONG FARING
Mudigah manusia mempunyai lima pasang kantung faring. Pasangan yang terakhir adalah kantung atipik dan sering dianggap sebagai kantung ke-4. Karena epitel endoderm yang melapisi kantung-kantung ini menghasilkan sejumlah organ penting, nasib tiap-tiap kantung akan dibahas secara terpisah.

3.2.1 KANTONG FARING PERTAMA
Kantong faring pertama membentuk sebuah divertikulum yang menyerupai sebuah tangkai, yaitu recessus tubotympanicus, yang berdampingan dengan epitel yang membatasi celah faring pertama, yang kelak menjadi meatus acusticus externus. Bagian distal divertikulum ini melebar menjadi bangunan yang menyerupai kantung, yaitu cavum tympani primitif atau rongga telinga tengah primitif, sedangkan bagian proksimalnya tetap sempit, membentuk tuba auditiva (eustachi). Epitel yang melapisi kavum timpani kelak membantu dalam pembentukan membrane tympani atau gendang telinga.

3.2.2 KANTONG FARING KEDUA
Lapisan epitel kantung ini berproliferasi dan membentuk tunas-tunas yang menembus ke dalam mesenkim di sekelilingnya. Tunas-tunas ini kemudian disusupi oleh jaringan mesoderm, sehingga membentuk primordium tonsilla palatina. Selama bulan ke-3 hingga ke-5, tonsil berangsur-angsur diinfiltrasi oleh jaringan getah bening. Sebagian dari kantung ini masih tersisa dan pada orang dewasa ditemukan sebagai fossa tonsillaris.

3.2.3 KANTONG FARING KETIGA
Tanda khas kantung ketiga dan keempat adalah adanya sayap dorsal dan sayap ventral pada ujung distalnya. Dalam minggu ke-5, epitel sayap dorsal kantung ketiga berdeferensiasi menjadi glandula parathyroidea inferior. Sedangkan sayap ventralnya berdeferensiasi membentuk timus. Kedua primordium kelenjar ini terputus hubungannya dari dinding faring, dan timus kemudian bermigrasi kearah kaudal dan medial, sambil menarik glandula parathyroidea bersamanya. Walaupun bagian utama timus bergerak dengan cepat menuju ke kedudukan akhirnya di dalam rongga dada (untuk bersatu dengan pasangannya dari sisi yang lain), ekornya kadang-kadang menetap atau menempel pada kelenjar tiroid atau sebagai sarang-sarang timus yang terpisah.
Pertumbuhan dan perkembangan timus berlanjut terus setelah lahir hingga masa pubertas. Pada anak yang masih kecil, kelenjar ini menempati banyak sekali ruang dada dan terletak dibelakang sternum dan didepan dada pericardium serta pembuluh-pembuluh besar. Pada orang yang lebih besar, kelenjar ini sulit dikenali karena mengalami atrofi dan digantikan oleh jaringan lemak.
Jaringan paratiroid dari kantung ketiga pada akhirnya terletak di permukaan dorsal kelenjar tiroid dan membentuk glandula parathyroidea inferior.

3.2.4 KANTONG FARING KEEMPAT
Epitel sayap dorsal kantung ini membentuk glandula parathyroidea superior. Ketika kelenjar paratiroid tidak lagi berhubungan dengan dinding faring, kelenjar ini menempelkan diri ke kelenjar tiroid yang bermigrasi ke arah kaudal dan akhirnya terletak pada permukaan dorsal kelenjar ini sebagai kelenjar paratiroid superior.

3.2.5 KANTONG FARING KELIMA
Kantung faring kelima adalah kantung faring terakhir yang berkembang dan biasanya dianggap sebagai bagian dari kantung ke-4. Kantung ini menghasilkan corpus ultimobranchiale yang terletak menyatu ke dalam glandulathyroidea. Pada orang dewasa, sel-sel corpus ultimobranchiale menghasilkan sel parafolicular atau sel C dari glandula thyroidea. Sel-sel ini mensekresi kalsitonin, yaitu suatu hormon yang mengatur kadar kalsium darah.

3.3 PERKEMBANGAN WAJAH
Wajah mulai berkembang selama minggu ke-3 pada saat embrio berukuran kira – kira 3 mm. Pada tahap ini prochondral plate ( calon membrane buccopharyngeal ) mulai terlihat di bilaminar embryonic disc. Dimana prochondral plate ini terletak di stomodeum (Primititive Oral Cavity), yang sebelah cranial dibatasi prominensia frontal, di bagian depan dan caudal dibatasi oleh pericardial swelling atau disebut juga tonjolan pericardium. Membrane buccopharyngeal ini membentuk dasar dari stomodeum yang nantinya akan pecah pada akhir minggu ke-3 sehingga terbentuklah hubungan komunikasi antara stomodeum dengan ujung cranial usus yang disebut faring.
Selama pembengkokan embrio, beberapa hari kemudian akan terjadi akumulasi mesenkim di region foregut pada kedua sisi yang kemudian menjadi pharyngeal arches atau branchial arches atau disebut juga lengkung faring. Dimana branchial arches ini dipisahkan satu dengan yang lain oleh branchial fold yang disebelah dalamnya membatasi branchial pouches atau kantong faring.
Kira – kira akhir minggu ke-3, berkembang suatu struktur yang tidak terkait dengan rongga mulut. Suatu kantung (pouch) berkembang pada atap stomodeum tepat didepan membrane buccopharyngeal. Kantung ini adalah kantung rathe atau rathke’s pouch, yang melekuk ke dalam kearah otak. Kemudian sel – sel ektodermal dalam pouch ini akan berproliferasi dan bermigrasi kearah ventral dari forebrain dan berdeferensiasi untuk membentuk lobe anterior glandula pituitary lobus anterior kelenjar hipofisis. Struktur ini akhirnya akan terpisah dari ektodermal oral.
Pada minggu ke-5, pada saat embrio berukuran kira – kira 6 mm, terbentuk penebalan epithelium yang terletak bilateral pada permukaan anterior wajah, diatas mulut primitif. Plakoda – plakoda nasal (olfaktorii) umumnya permukaannya terangkat secara bersamaan tetapi segera membentuk lekukan kecil di tengah, yakni olfactory pits. Dan semua elemen yang akan berperan dalam membentuk wajah sekarang sudah ada, yakni mata (plakoda lensa yang berkembang pada saat yang sama dengan plakoda olfaktori tetapi letaknya lebih ke dorsal), lipatan nasal lateral, prosesus frontonasalis, dan prosesus maksilaris dn mandibularis.
Dan pada akhirnya, pertumbuhan diferensial pada wajah menyebabkan mata bergerak mendekat satu sama lain dari posisi awalnya di lateral, sementara telinga bergerak ke cranial dari origonya di bagian servikal. Dua pembukuan dari nasus eksternus bergerak bersama – sama sehingga terbentuk tonjolan nasal eksternal dan dahi. Wajah baru akan mempunyai penampakan seperti manusia yang sebenarnya setelah 50 hari.