Sabtu, 30 April 2011

ains

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anti Inflamasi Nonsteroid
2.1.1 Pengertian
Obat anti-inflamasi nonstreoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretika, dan anti-inflamasi.9 OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi peradangan-peradangan di dalam dan sekitar sendi seperti lumbago, artralgia, osteoartritis, artritis reumatoid, dan gout artritis. Disamping itu, OAINS juga banyak pada penyakit-penyakit non-rematik, seperti kolik empedu dan saluran kemih, trombosis serebri, infark miokardium, dan dismenorea.
OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.15 Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu OAINS sering juga disebut sebagai obat-obat mirip aspirin (aspirin-like drug). Aspirin-like drugs dibagi dalam lima golongan, yaitu:
1. Salisilat dan salisilamid, derivatnya yaitu asetosal (aspirin), salisilamid, diflunisal
2. Para aminofenol, derivatnya yaitu asetaminofen dan fenasetin
3. Pirazolon, derivatnya yaitu antipirin (fenazon), aminopirin (amidopirin), fenilbutazon dan turunannya
4. Antirematik nonsteroid dan analgetik lainnya, yaitu asam mefenamat dan meklofenamat, ketoprofen, ibuprofen, naproksen, indometasin, piroksikam, dan glafenin
Obat pirai, dibagi menjadi dua, yaitu obat yang menghentikan proses inflamasi akut, misalnya kolkisin, fenilbutazon, oksifenbutazon, dan obat yang mempengaruhi kadar asam urat, misalnya probenesid, alupurinol, dan sulfinpirazon.
2.1.2 Aspek Farmakodinamik Obat Anti-inflamasi Nonsteroid
Semua OAINS atau aspirin-like drugs bersifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi.
a. Efek Analgesik
Sebagai analgesik, OAINS hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia, dismenorea dan juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opioat, tetapi OAINS tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Untuk menimbulkan efek analgesik, OAINS bekerja pada hipotalamus, menghambat pembentukan prostaglandin ditempat terjadinya radang, dan mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi.
b. Efek Antipiretik
Temperatur tubuh secara normal diregulasi oleh hipotalamus. Demam terjadi bila terdapat gangguan pada sistem “thermostat” hipotalamus. Sebagai antipiretik, OAINS akan menurunkan suhu badan hanya dalam keadaan demam. Penurunan suhu badan berhubungan dengan peningkatan pengeluaran panas karena pelebaran pembuluh darah superfisial. Antipiresis mungkin disertai dengan pembentukan banyak keringat. Demam yang menyertai infeksi dianggap timbul akibat dua mekanisme kerja, yaitu pembentukan prostaglandin di dalam susunan syaraf pusat sebagai respon terhadap bakteri pirogen dan adanya efek interleukin-1 pada hipotalamus. Aspirin dan OAINS lainnya menghambat baik pirogen yang diinduksi oleh pembentukan prostaglandin maupun respon susunan syaraf pusat terhadap interleukin-1 sehingga dapat mengatur kembali “thermostat” di hipotalamus dan memudahkan pelepasan panas dengan jalan vasodilatasi.
c. Efek Anti-inflamasi
Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin dan lainnya yang menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kebanyakan OAINS lebih dimanfaatkan pada pengobatan muskuloskeletal seperti artritis rheumatoid, osteoartritis, dan spondilitis ankilosa. Namun, OAINS hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan muskuloskeletal.
Meskipun semua OAINS memiliki sifat analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi, tetapi terdapat perbedaan aktivitas di antara obat-obat tersebut. Salisilat khususnya aspirin adalah analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi yang sangat luas digunakan. Selain sebagai prototip OAINS, obat ini merupakan standar dalam menilai OAINS lain. OAINS golongan para aminofenol efek analgesik dan antipiretiknya sama dengan golongan salisilat, namun efek anti-inflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan untuk anti rematik seperti salisilat. Golongan pirazolon memiliki sifat analgesik dan antipiretik yang lemah, namun efek anti-inflamasinya sama dengan salisilat.
2.2 Obat-obatan yang Mempengaruhi Sistem Saraf
Obat yang mempengaruhi sistem saraf sangat banyak. Berdasarkan cara kerja dan sifatnya obat yang mempengaruhi sistem saraf dapat dikelompokkkan menjadi
1. Obat yang mempengaruhi sistem saraf parasimpatik yang terdiri atas obat-obat kolinergik, antikolinergik dan antikolinesterase
a) Ester kolin dalam golongan ini termasuk asetilkolin, metakolin, karbakol, beta karbakol. Indikasi obat kolinergik adalah iskemik perifer (penyakit Reynauld, trombofleibitis), meteorismus, retensi urin, feokromositoma
b) Antikolinesterase, dalam golongan ini termasuk fsostigmin (eserin), prostigmin (neostigmin) dan diisopropilfluorofosfat (DFP). Obat antikolinesterase bekerja dengan menghambat kerja kolinesterase dan mengakibatkan suatu keadaan yang mirip dengan perangsangan saraf kolinergik secara terus menerus. Fisostigmin, prostigmin, piridostigmin menghambat secara reversibel, sebaliknya DFP, gas perang (tabun, sarin) dan insektisida organofosfat (paration, malation, tetraetilpirofosfat dan oktametilpirofosfortetramid (OMPA) menghambat secara irreversibel. Indikasi penggunaan obat ini adalah penyakit mata (glaukoma) biasanya digunakan fisostigmin,penyakit saluran cerna (meningkatkanperistalsis usus) basanya digunakan prostigmin, penyakit miastenia gravis biasanya digunakan prostigmin.
c) Obat antikolinergik (dikenal juga sebagai obat antimuskatrinik, parasimpatolitik, penghambat parasimpatis). Saat ini terdapat antikolinergik yang digunakan untuk
1. Mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya antispasmodik
2. Penggunaan lokal pada mata sebagai midriatikum
3. Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit parkinson.
2. Obat yang mempengaruhi sistem saraf simpatik yang terdiri atas obat adrenergik dan antiadrenergik.
a) Obat adrenergik mempunyai efek yang mirip efek neurotransmitter norepinefrin dan epinefrin (dikenal juga sebagai obat noradrenergik dan adrenergik atau simpatik atau simpatomimetik). Kerja obat adrenergik dibagi dalam 6 jenis yaitu:
• perangsangan perifer terhadap otot polos pembuluh darahn kulit dan mukosa, kelenjar liur dan keringat
• penghambatan perifer terhadap otot polos usus, bronkus, dan pembuluh darah otot rangka
• perangsangan jantung dengan akibat peningkatan denyut jantung dan kekuatan kontraksi
• perangsangan SSP seperti peningkatan pernafasan, kewaspadaan, dan pengurangan nafsu makan
• efek metabolik mislnya peningkatan glikogenolisisdi hati dan otot, lipolisis dan pelepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak
• efek endokrin misalnya mempengaruhi sekresi insulin, renin dan hormon hipofisis.
b) Penghambat adrenergik atau adrenolitik ialah golongan obat yang menghambat perangsangan adrenergik. Berdasarkan cara kerjanya obat ini dibedakan menjadi
• penghambat adrenoseptor (adrenoseptor bloker) yaitu obat yang menduduki adrenoseptor baik alfa (a) maupun beta (b) sehingga menghalanginya untuk berinteraksi dengan obat adrenergik.
• penghambat saraf adrenergik yaitu obat yang mengurangi respons sel efektor terhadap perangsangan saraf adrenergik. Obat ini bekerja dengan cara menghambat sintesis, penyimpanan, dan pelepasan neurotransmitter. Obat yang termasuk penghambat saraf adrenergik adalah guanetidinbetanidin, guanadrel, bretilium, dan reserpin. Semua obat golongan ini umumnya dipakai sebagai antihipertensi.
• penghambat adrenergik sentral atau adrenolitik sentral yaitu obat yang menghambat perangsangan adrenergik di SSP.
3. Obat anastetik
Anestetik dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu :
• Anestetik lokal yaitu penghilang rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran
• Anestetik umum yaitu penghilang rasa sakit yang disertai hilangnya kesadaran
4. obat antiansietas, sedatif dan hipnotik
5. obat antiepilepsi
Antiepilepsi atau antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Obat antikonvulsi atau antiepilepsi berdasarkan cara kerjanya dibagi mnejadi 2 yaitu :
a) dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi
b) dengan mencegah terjadnya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
6. obat psikotropik
2.3 Obat Antibiotik
Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan antimikroba yaitu obat yang membasmi mikroba khusunya mikroba yang merugikan manusia. Penggunaan antibiotik didasarkan pada:
a. Penyebab infeksi
Proses pemberian antibiotic yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun pada kenyataannya, proses tersebut tidak dapat berjalan karena tidak mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang datang karena infeksi, dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera maka pengambilan sample bahan biologic untuk pengembangbiakan dan pemeriksaan kepekaan kuman dapat dilakukan setelah dilakukannya pengobatan terhadap pasien yang bersangkutan.

b. Faktor pasien
Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotic adalah fungsi organ tubuh pasien yaitu fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi (status imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain.

Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar. Secara provilaktis juga diberikan kepada pasien dengan sendi dan klep jantung buatan, juga sebelum cabut gigi.
Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan tuan rumah. Selain itu, beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel dan membran sel. Namun antibiotika dapat digunakan sebagai non-terapeutis, yaitu sebagai stimulans pertumbuhan pada binatang ternak.

2.3.1 Penggunaan Antibiotik untuk Profilaksis
Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaan sebagai berikut:
a. Untuk melindungi seseorang yang terpajan kuman tertentu.
b. Mencegah endokarditis pada pasien yang mengalami kelainan katup jantung atau defek septum yang akan menjalani prosedur dengan resiko bakteremia, misalnya ekstraksi gigi, pembedahan dan lain-lain.
c. Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah.

2.3.2 Antibiotik Kombinasi
Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama:
a. Pengobatan infeksi campuran, misalnya pasca bedah abdomen.
b. Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas, misalnya sepsis, meningitis purulenta.
c. Mendapatkan efek sinergi.
d. Memperlambat timbulnya resistensi, misalnya pada pengobatan tuberkulosis

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Penggolongan Obat
3.1.1 Antibiotik
Antimikroba (AM) ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Antibitoik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memilki toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, obat tersebut harus bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relative tidak toksik untuk hospes.

1. Aktivitas dan Spektrum
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik; dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid.
Sifat antimikroba dapat berbeda satu dengan lainnya. Berdasarkan perbedaan sifat ini, atimikroba dibagi menjadi dua kelompok, yaitu spectrum sempit, umpamanya benzyl penisilin dan streptomisin, dan berspektrum luas umpamanya tetra siklin dan kloramfenikol.
2. Mekanisme Kerja
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima kelompok, yaitu :
• Antimikroba yang menghambat metabolisme sel mikroba
Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini ialah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS), dan sulfon. Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Kuman patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino benzoat (PABA) untuk kebutuhan hidupnya. Apabila sulfonamide atau sulfon menang bersaing dengan PABAnuntuk diikut sertakan dalam pembentukan asam folat, maka terbentuk analog yang nonfungsional. Akibatnya, kehidupan mikroba akan terganggu. Berdasarkan sifat kompetisi, efek sulfonamide dapat diatasi dengan meningkatkan kadar PABA.
• Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin. Sekloserin menghambat reaksi yang paling dini dalam proses sintesis dinding sel; diikuti berturut-turut oleh basitrasin, vankomisin dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin. Oleh karena tekanan osmotic dalam sel kuman lebih tinggi daripada luar sel maka kerusakan dinding sel kuman akan menyebabkan terjadinya lisis, yang merupakan dasar efek bakterisidal pada kuman yang peka.
• Antimikroba yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan poluen serta berbagai antimikroba kemoterapeutik, umpamanya antiseptic surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa ammonium-kuartener dapat merusak membrane sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membrane sel mikroba. Kerusakan membrane sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dalam sel mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida, dan lain-lain.
• Antimikroba yang menghambat sintesis protein sel mikroba
Obat yeng termasuk dalam kelompok ini ialah golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 3OS. Eritromisin berikatan dengan ribosom 5OS. Linkomisin juga berikatan dengan ribosom 5OS. Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 3OS. Kloramfenikol berikatan dengan ribososm 5OS.
• Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba
Antimikroba yang termasuk dalam golongan ini adalah rifampisin, dan golongan kuinolon. Rifampisin, salah satu derivat rifamisin, berikatan dengan enzim polymerase-RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzm tersebut. Golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk spiral hinggan bisa muat dalam sel kuman yang kecil.
3. Efek Samping
• Reaksi alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotic dengan melibatkan sistem imun tubuh hospes; terjadinya tidak bergantung padabesarnya dosis obat. Manifestasi gejala dan derajat beratnya reaksi dapat bervariasi. Misalnya reaksi alergi pada kulit akibat penggunaan penisilin dapat menghilang sendiri, walaupun terapinya diteruskan. Tetapi pada kejadian reaksi alergi yang lebih berat daripada eksantem kukit, tidaklah bijkasana untuk meneruskan terapi, sebab makin berat sifat reaksi pertama makin besar kemungkinan timbulnya reaksi yang lebih berat pada pemberian ulang, berupa anafilaksis, dermatitis eksfoliativa, dan lain-lain.
• Reaksi idiosinkronisasi
Gejala ini merupakan reksi abnormal yang diturunkan secara genetic terhadap pemberian antimikroba tertentu.
• Reaksi toksik
Efek toksik pada hospes ditimbulkan oleh semua jenis antimikroba. Golongan aminoglikosida pada umumnya bersifat toksik terutama pada N. VIII. Golongan tetrasiklin cukup terkenal dalam mengganggu pertumbuhan jaringan tulang, termasuk gigi akibat deposisi kompleks tetrasiklin kalsium orto-fosfat.
• Perubahan biologic dan metabolic
Penggunaan antimikroba, terutama yang berspektrum luas, dapat mengganggu keseimbangan ekologik mikroflora sehingga jenis mikroba yang meningkat jumlah populasinya dapat menjadi patogen. Gangguan keseimbangan ekologik mikroflora normal tubuh dapat terjadi di saluran cerna, napas dan kelamin, dan pada kulit.
Pada beberapa keadaan, perubahan ini dapat menimbulkan superinfeksi, yaitu suatu infeksi baru yang terjadi akibat terapi infeksi primer dengan suatu antimikroba. Mikrba penyebab superinfeksi biasanya ialah jenis mikrpba yang dominan pertumbuhannya akibat penggunaan antimikroba.
4. Penggolongan antibiotik berdasarkan struktur kimia
 Antibiotik β-Laktam
Antibiotik yang mengandung cincin β-Laktam (suatu amid siklik 4 anggota) dalam strukturnya, merupakan golongan domina zat yang sekarang digunakan untuk kemoterapi terhadap infeksi bakteri, misalnya penisilin dan sefalosporin.

 Antibiotik β-Laktam lain
Tienamisin : Antibiotik β-Laktam baru dari fermentasi kultur Streptomyces cetteya
Nokarsidin : Antibiotik dengan β-Laktam didapat dari berbagai jenis Nocardia. Tujuh buah nocardisin telah diisolasi dari fermentasi air daging yang telah diseidiki secara ekstensif adalah nokardisin.
Asam klavunalat : antibiotik β-Laktam diproduksi oleh aktinomiset yang sama memproduksi sefamisin c.streptomyces davuligeras.
Aminoglikosid : Merupakan senyawa basa kuat yang terdapat sebagai polikation pada fisiologis. Digunakan untuk pengbatan infeksi sistemik yang disebabkan oleh baksil gram-negatif aerobik.
Tetrasilin : Didapat secara fermentasi dari jenis streptomyces atau transformasi kimia produk alam.
Makrolid : Antibiotik yang diisolasi dari aktinomisetes.
Galiomisin : Antibiotik yang mengandung sulfur, diisolasi dari streptomyces lincolinensis.
5. Penggolongan berdasarkan tempat kerjanya
Tempat kerja Proses yang dihambat Antibiotik Tipe aktivitas
Dinding sel Biosintesis peptidoglikan - penisilin
- sefalosporin
- basitrasin
- vankomisin
- siklosein Bakterisid
Bakterisid
Bakterisid
Bakterisid
Bakterisid
Membran sel Fungsi dan integritas membran sel - nistin
- amfoterisin
- polimiskin B Fungisid
Fungisid
Bakterisid
Asam nukeat - Biosintesis AND
- biosintesis mARN
- biosisntesis AND dan mARN - mitomisin C
- rifampisin
glisevulfin Fansidal (antikanker)
Bakterisid
Fungisid
Robosom
- sub unit 30 S prokariot
- sub unit 50 S prokariot
- sub unit 60 S prokariot
- biosintesis protein
- biosintesis protein
- biosintesis protein - aminosiklitol
- tetrasiklin
- amfenikol
- makrolida
- linkosamida
- gluatirimid
- asam fusidat Bakterisid
Bakteriostatik
Bakteriostatik
Bakteriostatik
Bakteriostatik
Fungisid
Bakterisid


3.1.2 Antiinflmasi
Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, Prostaglandin dan PAF.
Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika.
1. Efek Farmakodinamik
Semua obat mirip-aspirin bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Adaperbedaan aktivitas di antara obat-obat tersebut, misalnya: parasetamol (asetaminofen)bersifat antipiretik dan analgesik tetapi sifat anti-inflamasinya lemah sekali.

a. efek analgesik
Sebagai analgesik, obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia dan nyerilain yang berasal dari integumen, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan denganinflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opiat. Tetapiberbeda dengan opiat, obat mirip-aspirin tidak menimbulkan ketagihan dan tidakmenimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Obat mirip-aspirin hanya mengubahpersepsi modalitas sensorik nyeri, tidak mempengaruhi sensorik lain. Nyeri akibatterpotongnya saraf aferen, tidak teratasi dengan obat mirip-aspirin. Sebaliknya nyerikronis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip-aspirin.

b. efek antipiretik
Sebagai antipiretik, obat mirip-aspirin akan menurunkan suhu badanhanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efekantipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik biladigunakan secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan antireumatik lainnya tidakdibenarkan digunakan sebagai antipiretik atas alasan tersebut.

c. efek anti-inflamasi
Kebanyakan obat miri-aspirin, terutama yang baru, lebihdimanfaatkan sebagai anti-inflamasi pada pengobatan kelainan muskuloskeletal, sepertiartritis reumatoid, osteoartritis dan spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obatmirip-aspirin ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan denganpenyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegahkerusakan jaringan pada kelainan muskuloskeletal ini.

2. Efek Samping
Selain menimbulkan efek terapi yang sama obat mirip-aspirin juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis PG. Selain itu kebanyakan obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yangbersifat asam misalnya di lambung, ginjal dan jaringan inflamasi. Jelas bahwa efekobat maupun efek sampingnya akan lebih nyata di tempat dengan kadar yang lebihtinggi.
Beratnya efek samping ini berbeda pada masing-masing obat. Dua mekanismeterjadinya iritasi lambung ialah: (1) iritasi yan bersifat lokal yang menimbulkan difusikembali asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan; dan (2) iritasiatau perdarahan lambung yang bersifat sistemik melalui hambatan biosintesis PGE2 danPGI2.
Efek samping lain ialah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesistromboksan A2 (TXA2) dengan akibat perpanjangan waktu perdarahan. Efek ini telahdimanfaatkan untuk terapi profilaksis tromboemboli.
Efek penggunaan analgesik habitual terhadap bentuk gangguan ginjal lain belumjelas. Penggunaan AINS secara habitual perlu peringatan akan kemungkinan terjadinyagangguan ginjal.

3.1.3 Analgesik
3.1.3.1 Pengertian Analgesik
Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgesik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psychis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.
3.1.3.2 Penggolongan Analgesik
Secara umum analgesik dibagi dalam dua golongan, yaitu analgesik non-narkotik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesik (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgesik narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesik (misalnya morfin). Selain itu, ada juga yang disebut analgesik ajuvan.
1. Analgetika Narkotik
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya memiliki farmakodinamik untuk menhhilangkan rasa nyeri dari ringan sampai beart, mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan), menimbulkan perasaan nyaman (euforia), dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.
Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :
1. Analgesik opioid natural/alami seperti golongan phenanthrene (morfin, kodein, dan thebain) dan golongan benzylisoquioline (papaverin, enoscopin,dan narcein).
2. Analgesik opioid semisynthetic seperti heroin, oxymorphone dan hydromorphone.
3. Analgesic opioid synthetic seperti oxymorphone, morphinians, dan benzamorphans.
Obat opioid menurut interaksinya dengan reseptor opioid di sistim saraf pusat yang multipel, digolongkan sebagai :
a. Obat opioid agonis
Opioid agonis, yang morphine-like membentuk ikatan dengan reseptor opioid yang diskret, sehingga menghasilkan analgesia. Obat opioid agonis ini dibagi menjadi 2 yaitu, agonis kuat (contohnya fentanil, heroin meperidin, metadon, morfin dan sufentanil) dan agonis sedang (contohnya kodein, dan propoksifen).
b. Obat opioid antagonis
Opioid antagonis juga membentuk ikatan dengan reseptor opioid, tapi memblok efek agonis morphine-like, sehingga tidak mempunyai sifat analgesik dari dirinya sendiri contohnya nalorfin, nalokson dan naltrekson.
c. Obat campuran opioid agonis – antagonis
Opioid campuran agonis-antagonis, tergantung lingkungannya dapat bersifat agonis atau antagonis contohnya buprenofin dan pentazocin.

Antagonis opioid adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan morfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin dan nalokson.
Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti.
Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis.
2. Analgetika non-narkotik/non-opioid
Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Dalam golongan ini termasuk juga obat – obat analgesic antipiretik, anti inflamasi non steroid (AINS), dan obat pirai. Semua analgesik perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Definisi analgesic, antipiretik,anti inflamasi non steroid (AINS) dan obat pirai merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan berbeda secara kimia, tetapi mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototype dari obat ini adalah aspirin sehingga disebut juga aspirin like drug.
Mekanisme kerja AINS adalah inhibisi produksi prostaglandin E2, yaitu senyawa yang mensensitisasi reseptor perifer terhadap efek nosiseptif bahan kimia yang dilepas dalam respons peradangan, dengan demikian AINS menginhibisi aktivasi nosiseptor perifer. Ada dua kelompok AINS, yaitu yang waktu paruhnya sing-kat dengan lama kerja sama dengan aspirin, misalnya : ibuprofen dan fenoprofen. Yang kedua adalah yang waktu paruhnya lebih panjang dengan lama kerja lebih panjang, misalnya : diflunisal dan naproksen. AINS, termasuk aspirin, khususnya berguna untuk nyeri dengan inflamasi dalam derajat yang bermakna, misalnya metastasis tulang, atau terlibatnya kapsul hati. Prostaglandin panting dalam efek osteolitik dan osteoklastik dari metastasis tulang. Aspirin menghambat pertumbuhan tumor dalam tumor tulang metastatik. Jika ada iritasi gaster, AINS dapat diberikan dalam bentuk tablet salut enterik atau supositoria. Spektrum toksisitas berbagai obat AINS adalah serupa.
Efek samping AINS yang paling umum adalah iritasi lambung. Efek samping lainnya adalah bronkhokonstriksi dan gagal ginjal. Aspirin adalah agen anti platelet yang poten, karena itu penggunaannya harus hati-hati, khususnya pada penyakit perdarahan. Penggunaan bersamaan dua AINS yang berbeda tidak dianjurkan karena akan berkompetisi dalam pengikatan protein sehingga keefektifan analgesiknya berkurang. Jika penggunaan analgesik non opioid hasilnya tidak efektif atau buruk toleransinya, maka digunakan analgesik opioid lemah misalnya : kodein, oksikodon dan propoksifen, sering dalam campuran tetap oral dengan analgesik non opioid. Ini merupakan langkah kedua dalam 'tangga analgesik' dari WHO.
Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:
1. Salisilamid (amida asam salisilat)
Mempunyai efek analgesic, anti piretik dan anti inflamasi lebih lemah dari aspirin oleh karena metabolism lintas pertama di mukosa usus. Conto obatnya asam salisilat, Na-salisilat, asetaminofen dan metal salisilat.
2. Derivat para amino fenol
Mempunyai efek analgesik dan antipiretik yang sama dengan aspirin. Contoh adalah fenasetin dan asetaminofen ( contonya panadol, pamol dan paracetamol)
3. Derivat pirozolon
Mempunyai efek anti inflamasi/anti rematik, analgesic, dan anti piretik yang lebih lemah daripada aspirin. Contohnya : antipirin, aminopirin (piramidon), dipiron (antalgin, novalgin, dan metampiron), fenilbutazon dan turunan-turunannya.
4. Derivat antranilat
Mempunyai efek analgesic anti piretik dan anti inflamasi. Anti inflamasinya lebih kecil daripada aspirin contoh obatnya : glafenin, asam mefenamat (ponstan, mefinter, dsb) dan asam nifluminat.
5. Derivat asam asetat dan asam propionate
Terutama mempunyai efek untuk analgesic, anti inflamasi, dan anti rematik. Contoh obatnya : diklofenak/voltaren, indomesatin, ibuprofen, naproxen, ketoprofen, dll.

3. Analgesic ajuvan
Termasuk dalam obat analgesik ajuvan adalah obat-obat yang digunakan sebagai koanalgesik pada jenis nyeri yang spesifik atau obat yang digunakan untuk melawan efek samping analgesik opioid. Obat koanalgesik tidak mempunyai aktivitas anti nosiseptif spesifik, namun dalam kombinasi dengan analgesik akan meningkatkan sifat menyembuhkan nyeri dari analgesiknya
Kombinasi obat analgesik dan obat ajuvan dapat memberikan tambahan analgesia, mengurangi efek samping dan mengurangi kecepatan eskalasi dosis opioid. Kombinasi dapat dilakukan juga antara opioid dengan non opioid (aspirin, asetaminofen, ibuprofen). Opioid juga dapat dikombinasikan dengan antihistamin (khususnya : hydroxyzine 100 mg), dan antara opioid dengan amfetamin (dexedrine 10 mg).
Contoh obat analgesic ajuvan adalah amitriptilin. amitriptilin efektif dalam mengendalikan nyeri neuropatik misalnya neuralgia post herpetika dan neuropatia diabetika.Amitriptilin efektif dalam mengendalikan nyeri neuropatik misalnya neuralgia post herpetika dan neuropatia diabetika. Mekanisme yang mendasari nyeri neuropatik pada infiltrasi tumor ke pleksus brakhial atau lumbosakral, dipercayai serupa dengan neuralgia post herpetika dan neuropati diabetika. Dosis amitriptilin untuk analgesia bervariasi 10¬75 mg. Dosis awal adalah 25 mg untuk pasien usia rata-rata, dan 10 mg untuk pasien usia lanjut. Kemudian dosis dititrasi dengan lambat sampai 50¬75 mg per hari dengan menggunakan dosis tunggal waktu tidur. Anti depresan trisildik lain adalah imipramin, dapat meningkatkan analgesia morphin pada pasien kanker dengan nyeri.
Obat ajuvan lain adalah major tranquilizer; jika diharapkan sedasi maka obat ini bisa efektif khususnya khlorpromazin. Pendapat lain menyebutkan bahwa khlorpromazin tidak mempunyai efek analgesik dan dapat menimbulkan sedasi yang berlebihan. Prokhlorperazin dan metoklopramid (phenothiazine like drug) umumnya digunakan sebagai antiemetik untuk mengatasi efek samping opioid. Obat ini termasuk paling sering dikombinasi dengan opioid, dan bisa dihentikan setelah dosis opioid stabil dan telah terjadi toleransi terhadap efek emetic.

3.1.3.3 Mekanisme kerja
Mekanisme kerja analgesic secara umum adalah dengan menghambat kerja enzim siklo-oksigenase sehingga konversi asan arakidonat menjadi prostaglandin terganggu dan reaksi inflamasi akan tertekan.
3.1.3.4 Efek samping obat
Efek samping yang paling sering terjadi dalam penggunaan anlgesik adalah iritasi lambung hingga tukak lambung, gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesa tromboksan A2 dengan akibat perpanjangan waktu perdarahan, gangguan fungsi hati pada pemakaian lama dan reaksi alergi seperti reaksi alergi di kulit. Efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar.
3.1.3.5 Farmakokinetik
Obat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian, umumnya mengalami absorpsi, distribusi dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja (titik tangkap kerja) kemudian menimbulkan efek, selanjutnya dengan atau tanpa biotransformasi/ metabolisme obat diekskresi dari dalam tubuh.
a. Cara pemberian obat dan absorpsi dari obal analgesic antara lain :
1. Pemberian per oral ( difusi pasif)
2. Pemberian secara sub lingual (tdk met lin I)
3. Pemberian per rectal
4. Pemberian secara suntikan (parenteral) melalui intravena (iv), subkutan (sk), intramuskular (im), intratekal (tdk met lin I)
5. Pemberian melalui paru-paru (inhalasi) (tdk met lin I)
6. Pemberian Topikal (kulit dan mata)

b. Filtrasi
• Melalui kanal hidrofilik
Molekul - molekul kecil (BM<1 00Å) yg larut dalam air, transport melalui kanal hidrofilik(urea, etanol,antipirin dll) • Melalui kanal selektif Untuk ion anorganik (Na, K, Ca, Cl), oleh.karena. mengikat air ukuran besar • Melalui celah antar sel Untuk semua molekul baik yang larut dalam lemak maupun tidak, kecuali Albumin (karena BM 69.000Å). Transport obat melalui celah antar sel berperan pada ekskresi obat melalui Glomerulus di ginjal dan absorpsi pada pemberian parenteral. c. Absorpsi Absorpsi ialah proses penyerapan obat dari tempat pemberian sampai di sirkulasi sistemik, ( menyangkut jumlah obat dlm persentase baik dalam bentuk utuh/ asal/ aktif maupun metabolitnya), untuk mencapai tempat kerjanya (titik tangkap kerja), dan obat baru memberi efek setelah mencapai titik tangkap kerja tersebut. Beberapa obat dapat menimbulkan efek pada tempat pemberiannya (efek lokal), sehingga tidak membutuhkan absorpsi ke sirkulasi sistemik. 3.1.4 Anastesi 3.1.4.1 Anastesi Umum Anestesi umum digunakan untuk pembedahan karena dapat menyebabkan penderita mengalami analgesia, amnesia, dan tidak sadar sedangkan otot-otot mengalami relaksasi dan penekanan refleks yang tidak dikehendaki. Tak ada obat tunggal yang dapat mencapai efek-efek ini secara cepat dan aman. Walaupun, beberapa kategori obat yang berbeda digunakan untuk mencapai keseimbangan anestesi, misalnya tambahan terhadap anestesi terdiri dari pengobatan preanestetik dan pelemas otot rangka. Pengobatan preanestetik menyebabkan penderita tenang, menghilangkan rasa sakit, dan melindungi terhadap efek yang tidak dikehendaki dari pemberian anestetik atau prosedur pembedahan berikutnya. Pelemas otot rangka memelihara intubasi dan menekan tonus otot sampai pada tingka yang diperlukan untuk operasi. Anestesi umum yang poten diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena. Kecuali nitrogen oksida, anestetik inhalasi modern semuanya bersifat volatil, hidrokarbn halogenasi yang berasal dari penelitian dan pengalaman klinik awal dengan dietil eter dan kloroform. Di lain pihak, anestetik umum ntravena terdiri dari sejumlah tipe obat yang secara kimia tidak berhubungan yang biasanya digunakan untuk mendapatkan induksi anestesi yang cepat. Untuk beberapa penderita dan prosedur pembedahan, pemberian pendamping anestetik lokal dan dosis rendah anestetik umum menghasilkan analgesia, dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki dari beberapa obat selektif. 3.1.4.1.1 Inhalasi Gas inhalasi adalah penyokong utama anestes dan terutama digunakan untuk memelihara anestesi setelah pemberian suatu obat intravena. Anestetik inhalasi mempunyai keuntungan yang tidak ada pada obat intravena, karena keadlaman anestesi dapat iubah dengan cepat dengan perubahan konsentrasi anestetik inhalasi. Karena kebanyakan obat ini cepat dieliminsai dari badan, maka obat-bat ini tidak menyebabkan depresi pernapasan pasca operasi Anestetik inhalasi kerjanyaa nonselektif. Sehingga selain efek penting kliniknya pada SSP, juga mengbah fungsi berbagai sel perifer. Kenyataan bahwa molekul yang tidak berkaitan secara kiimia menghasilkan suatu keadaan anestesi umum membantah adanya suatu reseptor anestetik spesifik. Lebih lanjut, bila anestetik merubah fungsi reseptor untuk neurotransmitter, obat ini bekerja nonselektif. Jadi, kenyataan bahwa daerah SSP, seperti sistem aktivasi retikuler dan korteks, menggambarkan tempat kerja anestetik yang pentinng, jelas tidak ada hubungannya dengan adanya reseptor spesifik pada suatu daerah utama, tetapi lebih terhadap peranan SSP dalam mengntrol semua keadaan kesadaran dan respons terhadap rangsangan sensorik. Obat-obat yang termasuk dalam anestetik inhalasi antara lain adalah halotan, enfluran, isofluran, metoksifluran, nitrogen oksida, dan sevofluran. Setiap gas halogenasi mempunyai ciri khas yang menguntungkan untuk pemakaian klinik yang selektif. Tak ada anestetik yang lebih superior dari yang lain. 3.1.4.1.2 Intravena Anestetik intravena sering digunakan untuk mendapatkan induksi cepat anestesi yang kemudian dipelihara dengan obat inhalasi yang tersedia. Anestetik intravena ini cepat menginduksi anestesi, dan karen aitu harus disuntikkan secara lambat. Sadar kembali dari anestetik intravena disebabkan oleh redistribusi dari daerah SSP. Obat-obat yang termasuk dalam golongan anestetik intravena adalah barbiturat, benzodiazepim, opioid, neuroleptanestesi, ketamin, dan propofol. 3.1.4.2 Anastesi Lokal 3.1.4.2.1 Pengertian Anestesi Lokal adalah obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Anestetika lokal yang ideal mempunyai sifat antara lain : • Tidak iritatif/merusak jaringan secara permanen • Batas kemanan lebar • Onset cepat • Durasi cukup lama • Larut dalam air • Stabil dalam larutan • Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan Anestetika lokal terdiri dari 3 bagian yaitu gugus Amin hidrofilik yang dihubungkan dengan gugus Aromatik hidrofobik oleh gugus antara. Sedangkan gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan oleh ikatan Amida atau ikatan Ester. Berdasarkan ikatan ini, anestetika lokal digolongkan menjadi : • senyawa ester (prokain, tetrakain, benzokain, kokain) • senyawa amida (lidokain, dibukain, mepivakain, prilokain) 3.1.4.2.2 Mekanisme Kerja dan Target Kerja Bekerja langsung pada sel saraf & menghambat kemampuan sel saraf mentransmisikan impuls melalui aksonnya. Target anestetika lokal adalah saluran Na+ yang ada pada semua neuron. Saluran Na+ bertanggung jawab menimbulkan potensial aksi sepanjang akson dan membawa pesan dari badan sel ke terminal saraf. Anestetika lokal berikatan secara selektif pada salurat Na+, sehingga mencegah terbukanya saluran tersebut. 3.1.4.2.3 Farmakokinetik Struktur obat anestetika lokal mempunyai efek langsung pada efek terapeutiknya. Semuanya mempunyai gugus hidrofobik (gugus aromatik) yang berhubungan melalui rantai alkil ke gugus yang relatif hidrofilik (amina tertier). Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh: - Kadar obat dan potensinya - Jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal - Kecepatan metabolisme - Perfusi jaringan tempat penyuntikan obat. Biasanya anestesi lokal dikombinasikan dengan pemerian vasokonstriktor. Pengkombinasian ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain : - Memperpanjang masa kerja anestesi lokal - Mencegah atau mengurangi terjadinya toksisitas sistemik oleh anestesi lokal - Mengurangi pendarahan lokal Meskipun begitu, vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada daerah dengan sirkulasi kolateral yang sedikit dan pada jari tangan atau kaki dan penis. Farmakodinamik amestesi lokal terdiri dari onset, intensitas, dan durasi blokade saraf yang ditentukan oleh ukuran dan lokasi anatomis saraf. Anestetika lokal umumnya kurang efektif pada jaringan yang terinfeksi dibanding jaringan normal, karena biasanya infeksi mengakibatkan asidosis metabolik lokal, dan menurunkan pH. 3.1.4.2.4 Efek Samping Depresi, stimulasi, atau keduanya, tergantung jalur saraf yangdipengaruhi anestetika lokal, euphoria, jika terjsdi overdosis anestetika lokal dapat pula menyebabkan penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion dan mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot. 3.1.4.2.5 Penggunaan Anestesi lokal yang biasanya digunakan dalam dunia Kedokteran Gigi misalnya lidokain; Lidokain adalah anastetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anastesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain merupakan amino etilamid. Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan dan dapat melewati sawar darah otak. Efek lidokain biasanya berkaitan dengan efek SSP, misalya mengantuk, pusing, gangguan mental, koma, dan seizures. Dan pada dosis yang berlebihan, lidokain dapat menyebabkan kematian akibat vibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung. Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anastesia infiltrasi blokade saraf, anastesia epidural ataupun anastesia kaudal. Pada anastesia infiltrasi, biasanya digunakan larutan 0,25-0,50 % dengan atau tanpa adrenalin. 3.2 Profilaksis Abiotik 3.2.1 Pengertian Antibiotik adalah obat dari senyawa kimia yang dimurnikan dari berbagai mikroorganisme, sehingga mampu menekan pertumbhan mikroorganisme lain. Senyawa kima dengan kemampuan sama namun diperoleh dari prosess sintetis disebut sebagai antimikroba. Berdasarkan jens mikroorganisme target, antibiotik dan antimikroba dapat disebut sebagai antibakteri, antifungi, antiparasit atau antiviral. Berdasarkan tujuan penggunaanya, antibiotik dapat dibedakan menjadi antibiotik terapi dan antibiotik profilaksis. Antibiotik terapi digunakan bagi penderita yang telah mengalami infeks idan penggunaannya dapat bersifat definitif maupun empiris. Terapi definitif dilakukan apabila jenis mikroorganisme penginfeksi beserta pola keekaannya terhadpa antibiotik telah diketahui dari data kultur dan uji sensitivitas. Antibiotik untuk terapi definitif harus diajukan secara spesifik untuk mikrooganisme pengnfeksi dan memiliki efektivitas tertinggi, toksisitas rndah, dengan spektrum aktivitas tersempit. Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan paa jaringan atau cairan tubuh yang tidak terinfeksi, namun diduga kuat akan terinfeksi. Antibiotik profilaksis ddiindikasikan ketika besar kemungkinan terjadi infeksi, atau walau kemungkinan terjadi infeksi kecil, akibatnya akan sangat parah. Penggunaan antibiotik profilaksis nonbedah dapat digunakan untuk tujuan sebagai berikut : 1. Pencegahan infeksi komunitas pada orang yang telah terpapar mikroorganisme yang jenisnya diketahui, misalnya orang yang memiliki kontak dekat dengan penderita tuuberculosis 2. Pencegahan infeksi nosokomial pada pasien dengan imunokomromis, misalnya pasien yang menjalani kemoterapi intensif 3. Pencegahan agar penyakit tidak kambuh, misalnya pada penyakit demam rematik 3.2.2 Pasien yang termasuk dalam indikasi antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis pada pasien sehat diindikasikan jika direncanakan untuk melakukan pembedahan di lokasi yang terkontaminasi parah [misalnya, bedah periodontal]. Auto-transplantasi gigi juga dapat dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik. Pada pasien immunocompromised, profilaksis semacam itu harus selalu diberikan. Dalam administrasi suatu antibiotik untuk keperluan profilaksis, konsentrasi obat dalam plasma harus jauh lebih tinggi dibandingkan jika antibiotik digunakan untuk tujuan terapeutik. Jadi, dosis profilaktik yang diberikan sebelum pembedahan haruslah dua kali lipat dibandingkan dosis terapeutik. Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk situasi berikut ini: a. Pasien yang mengalami gangguan jantung akibat endokarditis; banyak pasien yang beresiko menderita endokarditis setelah menjalani perawatan dental, akibat riwayat gangguan jantung. The American Academy of Pediatric Dentistry [AAPD] telah menyetujui pedoman pencegahan bakterial endokarditis yang dibuat oleh American Heart Association. Pedoman tersebut menegaskan abhwa anak-anak yang memiliki riwayat administrasi obat-obatan melalui intravena, dan anak-anak yang menderita sindrom tertentu [seperti, Down syndrome, atau Marfan syndrome], beresiko mengalami bakteriall endokarditis, akibat anomali jantung. b. Pasien immunocompromise: pasien semacam ini tidak dapat mentolerir bakterimia transien setelah perawatan dental invasif. Jadi, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, iradiasi, atau transplantasi sumsum tulang harus dirawat dengan hati-hati. Kriteria tersebut juga berlaku pada pasien yang mengalami kondisi berikut ini: infeksi human immunodeficiency virus [HIV], defisiensi imun, neutropenia, imunosupresi, anemia, splenectomy, terbiasa mengkonsumsi steroid, lupus eritematosus, diabetes, dan transplantasi organ. c. Pasien yang memakai shunt, kateter atau protesa vaskuler: bakterimia setelah perawatan dental invasif akan meningkatkan kolonisasi pada kateter atau shunt vaskuler. Pasien yang menjalani dialisis atau kemoterapi, atau transfusi darah, juga sangat rentan terhadap gangguan ini. Untuk profilaksis endokarditis, yang berkaitan dengan perawatan dental, amoksisilin adalah antibiotik pilihan. Amoksisilin yang dikombinasikan dengan asam klavulanat [klavulanat] dapat digunakan dalam kasus-kasus tertentu, karena dapat mempertahankan aktivitas melawan betalaktamase yang biasa diproduksi oleh mikroorganisme penyebab infeksi odontogenik. Klindamisin merupakan salah satu alternatif untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Obat tersebut bersifat bakteriostatik, meskipun secara klinis, dapat diperoleh aksi bakterisidal menggunakan dosis yang umum dianjurkan. Generasi makrolid terakhir, clarithromycin dan azithromycin juga dapat digunakan jika anak alergi terhadap penisilin. Sefalosporin cefadroxil merupakan pilihan tambahan jika dibutuhkan aksi dalam spektrum yang lebih luas. Metronidazole biasanya digunakan untuk melawan anaerob, dan biasanya diberikan dalam situasi yang dicurigai hanya terdapat bakteri anaerob. Tetrasiklin sangat jarang digunakan dalam praktek kedokteran gigi karena obat-obatan ini dapat menyebabkan perubahan warna gigi, sehingga tidak boleh diberikan pada anak yang berusia kurang dari 8 tahun, atau wanita hamil dan menyusui. 3.2.3 Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis 1. Tepat Indikasi Antibiotik profilaksis diberikan pada pembedahan dengan klasifkasi bersih kontaminasi (lihat tabel 1), yang mempunyai kemungkinan terjadi ILO sebesar 10,1% Dengan pemberian antibiotik profilaksis maka angka kejadian ILO dapat diturunkan menjadi 1,3% . Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pembedahan kriteria bersih yang memasang bahan prostesis. Juga diberikan pada operasi bersih yang jika sampai terjadi infeksi akan menimbulkan dampak yang serius seperti operasi bedah syaraf, bedah jantung, dan mata. Antibiotik profilaksis tidak tepat digunakan pada operasi kontaminasi atau kotor karena telah terjadi kolonisasi kuman dalam jumlah besar atau sudah ada infeksi yang secara klinis belum manifest. Bersih (Klas I) Non trauma Tidak ada inflamasi Traktus respiratorius, digestivus, urogenital, tanpa menembus Tidak ada kesulitan dalam operasi Bersih kontaminasi (Klas II) Traktus respiratorius, digestivus, menembus tanpa sillage yang signifikan Apendiktomi Orofaring Vagina Urogenital, menembus tetapi tidak ada infeksi urin Bilier, menembus tetapi tidak ada infeksi bilier Kesulitan ringan dalam operasi Kontaminasi (Klas III) Kesulitan besar dlam operasi Spillage yang banyak dari gastrointestinal Luka trauma, baru Menembus urogenital atau bilier, dengan adanya infeksi urine atau bile Kotor dan infeksi (Klas IV) Inflamasi bakterial akut tanpa nanah Transeksi daerah bersih untuk drainase nanah Luka trauma dengan jaringan mati, benda asing, kontaminasi fekal, delayed treatment Tabel 1. Klasifikasi Luka Operasi 2. Tepat Obat Antibiotik yang digunakan untuk untuk tujuan profilaksis berbeda dengan obat yang digunakan untuk tujuan terapi. Pada umumnya dipilih antibiotik dengan spektrum sempit, generasi yang lebih tua dibandingkan antibiotik untuk tujuan terapi. Dengan memperhatikan spektrum, antibiotik ditujukan pada kuman yang potensial menimbulkan ILO, dan antibiotik tersebut dapat melakukan penetrasi ke jaringan yang dilakukan pembedahan dengan konsentrasi yang cukup. Walaupun disatu bidang pembedahan kadang didapatkan banyak macam kuman normoflora, namun tidak semuanya potensial menimbulkan infeksi dan jumlah koloninya tidak banyak. Dalam pemilihan antibiotik harap diperhatikan faktor alergi, efektivitas, toksisitas, serta kemudahan cara pemberiannya. Pada umumnya untuk berbagai macam pembedahan masih digunakan sefalosporin generasi I yaitu sefazolin, sedangkan sefalosporin generasi III tidak dianjurkan untuk antibiotik profilaksis. Macam pembedahan Kuman patogen Antibiotik pilihan Pemasangan prostese katub jantung Pemasangan prostese sendi Staphylococci Sefalotin iv/ Sefazolin iv Instrumentasi traktus urinarius bawah Bakteri enterik Gram negatif Gentamisin iv Bedah kolorektal Bakteri enterik Gram negatif Enterococci anaerob Metronidazol iv + Sefalotin iv/ Sefazolin iv/ Gentamisisn iv Bedah traktus respiratorius atas Aerobik dan mikroaerofilik Stertococcus, anaerob Sefalotin iv/ Sefazolin iv Tabel 2. Kuman patogen penyebab ILO 3. Tepat dosis Untuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi dan didalam jaringan tubuh dicapai kadar diatas MIC (minimal inhibitory concentration) antibiotik terhadap kuman yang potensial menimbulkan infeksi. Untuk itu kadang diperlukan loading-dose yang takarannya 2-4 kali dosis normal. Dosis yang kurang adekwat, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan kuman tetapi justru merangsang terjadinya resistensi kuman. 4. Tepat rute Agar antibiotik dapat segera didistribusikan ke jaringan maka pemberiannya dilakukan secara intravena 5. Tepat waktu pemberian Pemberian antibiotik profilaksis dilakukan pada 30 menit (intravena) atau 1 jam (intramuskuler) sebelum insisi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar antibiotik didalam jaringan sudah mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik profilaksis lebih baik dilakukan di dalam kamar operasi, pada waktu anestesi melakukan induksi, untuk itu dapat minta tolong anaestesis untuk memberikannya. Antibiotik tersebut harus mencapai kadar puncak didalam jaringan sebelum terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di lapangan operasi. Antibiotik tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya ILO jika diberikan sebelum 2 jam atau sesudah 3 jam dilakukan insisi. Pada operasi kolon, diberikan juga antibiotik peroral yaitu neomisin dan eritromisin masing-masing 1g pada jam 13.00, 14.00 dan 23.00. obat lain yang dapat diberikan juga ialah metronidazole+ kanamycin/ neomycin. 6. Tepat lama pemberian Pada operasi yang lama > 3 jam atau perdarahan selama operasi > 1500 ml akan terjadi penurunan dosis antibiotik didalam jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut dapat diberikan dosis tambahan. Jika operasi sangat memanjang maka pemberian dosis tambahan dapat diberikan setiap 2 jam untuk sefoksitin atau setiap 4 jam untuk sefazolin.
Pada beberapa operasi yang sederhana seperti apendiktomi atau herniotomi menggunakan mesh maka antibiotik profilaksis cukup diberikan sekali preoperatif saja. Pada umumnya pemberian antibiotik profilaksis tambahan sebanyak 1 dosis setiap 8 jam diberikan hanya selama 1 hari saja, karena pemberian lebih dari 1 hari tidak memberikan manfaat lebih.

3.3 Jenis Antobiotik dan Dosis
a. Penisilin
Tersedia sebagai garam kalium dalam bentuk tablet 250 mg dan 625 mg dan sirup 125 mg/5 ml.
b. Ampisilin
Untuk pemberian oral tersedia dalam bentuk tablet atau kapsuung daril sebagai ampisilin trihidrat. Dosis ampisilin tergantung dari berat nya penyakit,fungsi ginjal dan umur penderita. Garis besar penentuan dosis adalah sebagai berikut dewasa penyakit ringan sampai sedang diberikan sampai 2 -4 gram sehari,dibagi untuk 4 kali pemberian.untuk penyakit berat sebaiknya diberikan preparat parenteral sebanyak 4-8gram sehari.untuk anak dengan berat badan kurang dari 20 kg diberikan per oral 50-100 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.
c. Amosisilin
Tersedia dalam bentuk kapsul atau tablet berukuran 125,250,dan 500 mgdan sirup 125mg/5ml dosis sehari dapat diberikan lebih kecil daripada ampisilin karena absorpsi nya lebih baik dari ampisilin
d. Sevalosporin
e. Sefotaksim
Dosis obat untuk orang dewasa 2-12gram sehari atau dibagi dalam 3 sampai 6 dosis. dosis untuk anak ialah 100-200 mg /kgBB atau perhari yang dibagi 3-6 dosis
f. Mokssalaktam
Dosis obat 2-4 gram atau tiap 8-12 jam. Dosis untuk anak ialah 150-200 kg/BB atau perhari yang diberikan 3-4 dosis perhari
g. Karbenisilin
Tersedia untuk suntikan garam natrium dalam vial 1,2,5,10 gram dosis dewasa berkisar 25- 30 gr sehari. Pada saat ini karbenisilin tidak di pasarkan di indonesia.
h. Karbenisilin-Indanil
Tersedia dalam bentuk tablet 500 mg dosis berkisar antara 500-1000gr 4 kali sehari tergantung berat dan jenis infeksi, obat ini tidak tersedia di Indonesia
i. Sulbenisilin
Dosis yang di anjurkan ialah 2- 4 gr sehari, anak 40-80 mg BB sehari. Terbagi 2-4 kali suntikan IV atau dengan infus.

BAB 4. KESIMPULAN


Daftar Pustaka

Harbarth S, Matthew H, Samore MD, Linchtenberg Debi RN, Carmeli Y. Prolonged antibiotic prophylaxis after carciovascular surgery and its effect on surgical site infection and antimicrobial resistance. Circulation 2000;101:2916
Liesegang TJ. Prophylactic antibiotis in cataract operations. Mayo Clin Proc. 1997; 72: 149-59.
Lindman JP. Antibiotics, prophylactic use in head and neck surgery, 2007 emedicine, available at http:// www. emedicine.com/ent/ topic 18.htm
Meakins JL. Prevention of postoperative infection. ACS Surgery : Principles and Practice, BC Decker Inc, 2008
Munckhof W. Aust Prescr 2005;28:38-40
Mycek, Mary J.,et al. 2001. Farmakologi: Ulasan Bergambar. Jakarta:Widya Medika
Pallasch TJ. Antibiotic prophylaxis. Endodontic Topics 2003;4:46-59
Reksoprawiro, Sunarto. Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pembedahan. Surabaya. Departemen/ SMF Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ RSU Dr. Soetomo
Santoso, Budi Iman. Pemberian Antibiotik Profilaksis dalam Pembedahan Obstetri dan Ginekologi. Divisi Urologi Rekonstruksi. Departemen Obstetri dan Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Tourmousoglou CE, Yiannakopoulou, E,Ch, Kalapothaki V, Bramis J, and Papadopoulos J.St. Adherence to guidelines for antibitic prophylaxis in general surgery: a critical appraisal, J Antimicrob Chemother 2008;61:214-8
Walling AD. Antimicrobial prophylaxis for surgical site infections. Am Fam Physician. 2005
Weitek MR. Antibiotic prophylaxis: update on common clinic. Am Fam Physician 1993;
Woods RK. Current guideline for antibiotic prophylaxis of surgical wounds. Am Fam Physcian. 1998
Zelenitsky SA, Ariano RE, Harding GKM, Silverman RE. Antibiotic pharmacodynamics in surgical prophylaxis: An association between intraoperative antibiotic concentrations and Efficacy . Antimicrob Agents and Chemother 2002; 46:3026-30
http://dhinierha.blogspot.com/2009/05/antibiotik-profilaksis-dalam-odontologi.html diakses tanggal 11 januari 2011
http://www.scribd.com/doc/41347863/Prinsip-Penggunaan-Antibiotik-Profilaksis diakses tanggal 11 januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar